Awan kelabu merayap, menggeser bintang malam. Menutup dewi malam yang sedang bersolek. Tik! Tik! Bunyi rinai air yang jatuh menghujam tanah menambah kantukku. Gemericiknya beradu dengan gesekan tanah. Nyaris bersamaan dengan senandung katak yang sahut-menyahut. Nada ritmis bak orkestra yang meninabobokkan bocah di tengah malam. Kulipat kedua lenganku. Menepis hawa dingin yang mencengkeram tubuhku yang menggigil.
Kakiku berselonjor menghantam undakan ubin tangga kayu di daun pintu. Mataku mengerjap-ngerjap. Penduduk yang berseliweran tak segan melempar senyum sembari melangkah mantap untuk melakukan mendhak tirta1. Pandanganku menerawang jauh. Dari kawah Bromo, aku dapat melihat asap dupa yang menyeruak. Seakan menantang dinginnya bayu malam dan rinai hujan.
“Kamu belum bersiap?” tiba-tiba sosok suara bergema membuyarkan lamunanku. Aku menggeleng skeptis. Pikiranku melayang bersama asa. Pria tegap itu mengencangkan ikat kepalanya. Ikat yang mengingatkanku pada suatu peristiwa yang terjadi di malam yang sama.
***
Dinginnya malam menyumsum. Kelam menerkam bayang-bayang hitam di cakrawala. Sang bayu silir-semilir berembus lembut menghasut. Memuput ikat udeng yang terbang seakan melambai-lambai pada sang rembulan. Dalam temaram pendarannya yang teduh memayungi samudera berpasir, kawah Gunung Bromo. Tubuh kurus berbalut kain hitam entak rampak beradu ke pelataran pura. Di tengah debu berpasir yang membuncah pelupuk mata. Sembari menghadap tungku pembakaran dupa, bibir mereka mengulum, merapal mantra-mantra. Larut dalam kekhidmatan.
Kabut putih menebal, seakan menambah mistis suasana. Aroma dupa dan kemenyan langsung tercium saat masyarakat Tengger berpuak-puak memasuki Pura Luhur Poten. Diiringi alunan gending ritmis yang larung bersama doa dan puja-puja. Gegap gempita dalam keharmonian.
Hong wilaheng mangkudaya
jagad dewa bathara eyang
jagad pramudita ingkang
miwiti, ndugiaken kajate…2
jagad dewa bathara eyang
jagad pramudita ingkang
miwiti, ndugiaken kajate…2
Kuncup mataku tak lekas beralih dari Kang Asep. Matanya terpejam. Bibirnya ripuh bergeremeng, menghapal mantra-mantra. Peluh menetes dari tengkuknya. Aku mencoba mengusap pundaknya. “Kang, upacara bakal miwiti.”
Kang Asep tersenyum getir. Jemari kurusnya mengacak-acak rambut ikalku. Tak ada sepatah kata yang terucap. Pria bertubuh ramping itu sibuk melantunkan doa dan puja-puji kepada Sang Hyang Widhi3.
Gamelan tiba-tiba ditabuh lebih keras tanda prosesi upacara Kasada akan dimulai. Obor-obor disulut meliputi dinding bujur sangkar pura. Remang-remang. Sang dukun ketua mulai berkutat dengan mantra dan doa.
“Rileks, Kang”. Aku kembali menoleh ke Kang Asep. Matanya masih terpejam. Siluet tubuhnya membungkuk kaku di dinding pura. Badannya bergetar hebat bersamaan dengan bisikan sayup yang terdengar dari kuluman bibirnya.
Tak lama, pria bertubuh tegap itu melangkah mantap. Kemudian duduk di hadapan ketiga dukun sesepuh. Dalam adat Tengger, seseorang akan diangkat menjadi dukun bila ia berhasil menjalani ritual mulenen4. Dimana mereka harus membaca mantra tanpa terputus selama nyaris berjam-jam.
Di bawah naungan tedung3, Kang Asep kemudian memulai bacaan mantranya. Mulutnya berkomat-kamit, suaranya liris terdengar dari pengeras suara. Kemudian lesap, lebur serempak dengan detak jantungnya yang menggebu-gebu. Suasana berubah gegap gempita. Para penonton saling bertukar pandang. Serupa dengan gelengan ketiga sesepuh yang mulai ragu. Kang Asep belingsatan. “Semangat, Kang!” Aku mengepalkan tanganku ke atas bak meninju langit.
Sekejap ekor matanya menoleh padaku. Kembali dikulumnya senyum getir. Tak lama bibirnya bergetar merapal mantra dengan terbata. Kata-katanya seakan tercekat di pangkal tenggorokan. Syukurlah, Dewi Fortuna masih berpihak, Kang Asep dapat menyelesaikan bacaan mantranya.
“Rampung,” pungkasnya malu-malu.
“Kados pundi sedulur brang wetan? brang kulon?”4 Sang dukun kepala menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri sambil berbisik-bisik. Meminta penilaian dari kedua dukun lainnya. “Saaaah?” tanyanya pada masyarakat sekitar.
Mbah Sani yang sedari tadi mengelus rambutku melepaskan telapak tangan keriputnya. Aku dapat merasakan getaran yang membuncah raga wanita paruh baya itu. Lengannya kaku, tubuhnya ringkih. Bibirnya berkomat-kamit. Telapak tangannya menyembah, memohon restu atas kelulusan Kang Asep.
Ketiga dukun masih bercakap seraya sekali-kali mengangkat tangan mereka. Kang Asep tertunduk pasrah. Bola matanya berkaca-kaca. Dia siap menerima keputusan terpahit dalam tilas hidupnya.
“Lulus. Saaaaaah!”
Pelukan jemari Mbah Sani terlepas dari pundakku. Bruuuk! Seketika wanita paruh baya itu luruh. Jatuh tertelungkup bertabur rinai air mata. Memecah keramaian menjadi dua kubu.
***
“Sampeyan ora bersiap?” tanya Kang Asep lagi. Kali ini dia meninggikan nada suaranya hingga seranaanku buyar. “Belum, kang.” sahutku. Kang Asep duduk di undakan anak tangga di pintu gubuk sembari menepuk pundakku. “Sampeyan ora melu mendhak tirta?”
Aku menggeleng. Kutolehkan kepalaku ke belakang. Desiran angin menerbangkan atap pelepah kelapa yang melambai-lambai. Hanya ada empat bilah bambu yang menyangga bilik gubuk. Bila angin menerjang, kapan saja nyawaku dapat terancam. “Kang, apakah tidak bosan hidup seperti ini?”
Kang Asep duduk mendekat. Kemudian pundakku kembali ditepuknya dan mataku ditatapnya dengan pandangan teduh. “Don, kang mas dibayar seikhlas masyarakat. Kang mas bersyukur atas pemberian Tuhan. Besar atau kecilnya itu. Karena tidak semua masyarakat bisa menjadi dukun. Pekerjaan ini mulia, Don.”
“Mulia? Mantra-mantra suci Kang Mas bahkan tidak bisa menyelamatkan nyawa Mbah Sani!” gertakku kasar. “Pekerjaan Kang mas bagai menghasta kain sarung, sia-sia!” Kang Asep terperanjat. Tak disangkanya kata-kata kasar itu terucap begitu saja dari bibirku.
“Don, nyawa itu ada di tangan Tuhan! Kang mas hanyalah hamba yang mengabdi pada agama yang diwariskan para leluhur. Kang mas juga kelak akan mati menyusul Mbah Sani, Don!”
Kang Asep membisu. Terdiam seribu bahasa. Tubuhku lemas, seakan menyesal sudah mengucapkan kata-kata sekasar itu. Apa boleh buat, nasi sudah menjadi bubur. “Jadi kamu tidak mau ikut Yadnya Kasada?!” tanyanya lagi yang kemudian dibalas dengan gelengan kepalaku.
Kemudian dia bangkit mengenakan sandal lusuhnya dan melangkah menuruni undakan tangga sambil menoleh. “Awas kualat, Don!” ucapnya sembari berlalu dari hadapanku. Berlari kecil menghantam rinai hujan.
Kutepis perkataan Kang Asep. Mencoba melupakannya. Penglihatanku teralih jauh ke arak-arakan. Hujan sudah mulai mereda rupanya. Dari kaki gunung aku dapat melihat orang-orang melarung ongkek-ongkek5 ke kawah Bromo. Sementara anak-anak berkecipak ria menghantam genangan air.
Kres Kres! Semak bergesek. Tidak sekali, namun berkali-kali. Aku terperanjat. Memicingkan mataku seraya mencari asal muasal suara.
“Si..siapa itu?” tanyaku tak berbalas. Kucoba ‘tuk berdiam diri, tetapi suara itu terdengar bertubi-tubi. Bulu romaku berdiri mendukung tubuhku yang menggigil ketakutan. Bayang hitam mendekat mencekik mataku. Matanya merah menyala membekam mulutku. Lidahku kelu bagai diikat tali sauh.
Bayang hitam itu makin jelas terlihat. Tubuhnya kurus bagai tulang dibungkus kulit. Jasadnya hitam seperti melepuh terbakar Bau bacin menyeruak tercium hidungku. Pria itu menatap kosong dan jemari telunjuknya tegak menuding ke arahku.
“Kang Asep.. Tolooong!” atmaku meraung menikam sukma. Kuambil langkah seribu dan kubanting pintu menghantam kosen kayu. Braaaak! Sekali, dua kali, berkali-kali terdengar suara ketukan. Tengkukku dibanjiri keringat. Sekujur tubuhku bergetar hebat. Pintu gubuk nyaris terbuka, seperti didobrak oleh seseorang dari luar. Susah payah kusandarkan tubuhku menahan pintu.
Samar-samar aku terbayang wajah Kang Asep dan perkataannya. Apakah aku kualat? Didera ketakutan luar biasa, Aku melolong, menyebut-nyebut nama Kang Asep. Asaku remuk bak robekan buku yang dibakar lalu luruh disemai menjadi abu.
Tuhan… Selamatkanlah diriku. Kutukan, kualat itu benar adanya. Tidak seharusnya aku menyalahkan takdir-Mu atas nasib buruk yang menghampiriku.
“Don, kamu disana?” tanya sosok suara. Tubuhku langsung tersungkur bersimbah peluh. Kang Asep mendobrak pintu dan menemukanku terkulai lemas tak berdaya. “Apa yang terjadi Don?”
Mataku nanar menatap perawakan tegap di hadapanku. Badanku seakan membeku sedingin bongkahan es. Langsung kupeluk tubuh basahnya, meninggalkan jutaan tanda tanya.
“Aku kualat, Kang. Aku janji tidak akan meninggalkan Yadnya Kasada untuk kedua kalinya. Aku menyesal, Kang!”
Kang Asep mengernyitkan dahinya. “Kualat apa?” Namun akhirnya dia tersenyum masam. Setelah itu tidak ada pertanyaan lagi yang keluar dari bibirnya. Dia larut dalam pelukan hangatku.
“Maafkan aku, Kang…” sesalku. Jemari Kang Asep asyik mengacak-acak rambutku. Kemudian sembari mengelus-elus jidatku, dia menggeleng. “Tak apa, yang penting kamu sudah menyadari kesalahanmu..”
***
Pagi, sang surya tersipu diarak dayang-dayangnya si kapas putih. Pendarannya menyeruak ke celah-celah anyaman bambu bujur sangkar yang mengitari bilik tidurku.
Tok Tok Tok! Suara ketukan pintu. Dengan malas, kuayunkan kakiku. “Permisi, dik…” Seorang pria perawakan kebapakan hadir di daun pintu. “Ada Kang masmu?” Senyumnya kemudian kubalas dengan gelengan kepala. “Kang Mas sedang ada urusan,”. Aku melangkah malas dan menumpukan tumitku pada undakan tangga. Mengucek-ucek mataku yang baru setengah terbangun.
“Tadi malam saya sudah kesini dik, tapi tidak ada orang.” Bapak itu mengernyitkan dahinya selagi menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian dia duduk mendekat di undakan tangga. “Saya mendengar jeritan orang dari dalam. Sepertinya dia meminta tolong. Tetapi saat saya mendobrak pintu, pintu tidak bisa dibuka. Sepertinya pintunya rusak.”
Wajahku pucat pasi. Senyum yang menghiasi rona wajahku sirna. Tergantikan oleh guratan kemerahan yang mengitari lesung pipiku.
“Saya pindahan dari Aceh, Syukurlah saya salah lihat, jika tidak anak itu pasti sudah bernasib buruk sekarang! Siksa Tuhan itu lebih kejam.”
Sukmaku langsung tertohok oleh kritik pedas yang menghujam bak sebilah pedang samurai. Mungkin itu salah satu bentuk teguran Sang Hyang Widhi atas kepongahanku. Aku yang tidak pernah bersyukur.
“Pak…” sapaku lirih. Tiba-tiba bau gosong tercium. Entah bagaimana, aku teringat, tadi malam aku melihat sosok bertubuh kurus, berbaju putih, dan berbau gosong. Sama persis. Tubuhku langsung gemetaran dan seketika aku terdiam.
“Don! Bicara dengan siapa kamu tadi?” tanya Kang Asep menatap dari kejauhan dengan curiga. Aku berlari menghampiri pria berbadan tegap itu.
“Anu kang… itu. Anu. Ada yang mencari Kang Mas,” laporku. Tetapi saat aku menoleh ke belakang, pria itu menghilang bak ditelan bumi. Mataku menelisik sekitar. Jejaknya pun tidak ada padahal tanah sedang berlumpur karena teraduk bersama kubangan air hujan.
“Sedari tadi Kang Mas melihatmu mengobrol sendiri. Lalu mana yang mencari Kang Mas? Ke mana dia?” Kang Asep bertanya tepat saat tubuhku tersungkur. Aku jatuh tertelungkup. Kang Asep langsung panik dan membopongku. Tak lama, aku terbangun. Keringat dingin mengucur dari sekujur tubuhku. Bibirku bergetar-getar lemah. Aku pun menceritakan semuanya pada Kang Asep.
“Don..” sapa Kang Mas lirih. Dia membawakanku seteguk air putih hangat. “Minum dulu.” perintahnya.
“Iya Kang Mas…” Aku mengangguk menurut. Kuteguk segelas air putih hangat yang melarung kegelisahan di kerongkonganku.
“Kamu baru saja bertemu dengan roh leluhur, Don. Roh yang mengorbankan dirinya demi keselamatan rakyat di sekitar kawah Bromo. Sebelum itu, dia meminta agar kita melemparkan hasil ladang setiap bulan Kasada ke kawah Bromo. Upacara ini kemudian disebut dengan Yadnya Kasada. Upacara pengorbanan ini merupakan wujud syukur kita, Don, sebagai hamba Tuhan atas karunianya yang melimpah,” Kang Asep menjeda kisahnya dengan helaan napas.
“Don, Biarlah kita hidup seperti umang-umang asal jangan bertingkah seperti anjing terpanggang ekor.” Tuturnya sambil terkikik. Namun Kang Asep bergegas menahan tawanya. Aku mengernyit curiga. “Jangan-jangan…”
“Hidup dikandung adat, mati dikandung tanah!” serunya masih menahan tawa (lagi), namun pada akhirnya kekehan tawanya meledak (juga).
Muhammad Anugrah Utama, SMA Negeri 1 Metro
Catatan Kaki Cerpen
1 Salah satu prosesi dalam Upacara Kasada yaitu pengambilan air suci untuk upacara di Pura Luhur Poten.
2 Merupakan kutipan mantra pengantar upacara adat suku Tengger yang diujikan pada saat upacara Kasada. Dikutip dari https://jawatimuran.wordpress.com
3 Sebutan Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Hindhu.
4 Payung hias Bali
3 “Bagaimana saudara Brang Wetan? Brang Kulon? (Wilayah Suku Tengger terbagi menjadi dua, yaitu Sabrang Wetan dan Sabrang Kulon)
5 Wadah yang berisi sesaji dari hasil pertanian, ternak, dan lain-lain

Tidak ada komentar:
Posting Komentar